Thursday, April 30, 2020

5 Tips Saat Tidak Bisa Berobat Di Tengah Pandemi Corona

Sumber Foto: Google 

Hai hai. Bagaimana kabar kamu? Semoga dalam keadaan baik ya. Sudah sekitar 1 bulan ini aku melakukan work from home (WFH) dan sekarang kotaku Surabaya sudah melaksanakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Makin lama dong dirumahnya? Syukurnya aku anaknya memang betah dirumah. Selalu ada aja hal yang bisa kulakukan, salah satunya nulis blog post ini untuk kalian baca. Berkumpul bersama keluarga jadi makin seneng. Aku tidak akan stress dirumah walaupun sebenarnya kangen juga sama sanak saudara, temen-temen, dan nge-mall tentunya. Kalau kamu bagaimana? Apa saja kegiatanmu dirumah? Memang kebijakan PSBB yang diambil pemerintah ini adalah langkah yang pengaruhnya cukup ekstrim. Masyarakat berusaha keras menyesuaikan kegiatannya sesuai aturan untuk menekan meluasnya wabah. Bagiku sejauh ini tidak ada sesuatu yang memerlukan perubahan besar, kecuali 1 hal yaitu pembatasan ke klinik/ puskesmas/ rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. 

Jadi ceritanya beberapa waktu lalu Ayahku mau berobat ke puskesmas untuk memeriksakan keluhan giginya. Ayahku datang jauh-jauh kesana dan ternyata tutup. Tidak jauh berbeda dengan beliau, aku baru saja mengalami hal yang sama. Akhir-akhir ini aku mengalami keluhan di telinga. Sebenarnya keluhan telinga ini bukan hal yang asing buatku karena aku sering mengalami keluhan yang sama sejak duduk di bangku kuliah. Bukan keluhan tidak bisa mendengar melainkan lebih ke rasa cekot-cekot yang tidak berhenti-berhenti di area lubang telinga. Biasanya kalau mengalami ini aku akan langsung berangkat ke praktek dokter THT terdekat untuk berobat. Dokter THT ini buka klinik di rumahnya dan prakteknya mulai jam 21.00 malam karena beliau baru datang dari praktek di rumah sakit. Mau tidak mau aturan PSBB ini berimbas ke tutupnya praktek dokter THT tersebut. Aku juga sempat tahu dari internet kalau ada larangan untuk ke berobat ke spesialis gigi dan THT selama pandemi Corona. Alhasil aku meringis karena tidak tau harus berobat kemana. Apa kamu pernah mengalami kesulitan untuk berobat juga? Lalu apa yang harus dilakukan? Berikut ini adalah 5 tips dari aku ketika menghadapi kondisi tidak bisa berobat di tengah pandemi Corona. 


Hindari mendiagnosis sendiri 

Kalau lagi sakit, tidak jarang kita mendiagnosis sendiri sakit apa dan obatnya apa padahal belum tentu benar. Mendiagnosis sendiri menurutku adalah hal yang fatal untuk dilakukan terutama jika kamu bukan dokter dan tidak mengetahui tentang obat-obatan. Kalau sekedar batuk, pilek, atau pusing banyak obat generik yang dijual di apotek hingga minimarket. Namun jika keluhanmu bukan sesuatu yang umum dialami, jangan coba-coba meminum obat tanpa resep dokter. Resikonya bisa jadi sangat tinggi jika meminum obat yang salah. Sudah buang uang, kesehatan jadi taruhannya loh. 


Hindari membaca artikel kesehatan yang tidak jelas sumbernya 

Banyak artikel mengenai kesehatan yang bisa ditemukan di internet mulai dari info penyakit hingga tips penyembuhan baik dengan obat maupun alamiah. Namun kamu tidak bisa percaya 100% karena artikel tersebut belum tentu jelas sumbernya dan belum tentu ditulis oleh ahlinya. Kadang kita malah jadi bingung info yang dibaca itu benar atau hoax. Lebih baik kurangi mengonsumsi artikel kesehatan yang tidak jelas sumbernya agar tidak semakin panik dan stress. 


Makan makanan sehat dan tidur yang cukup 

Semasa pandemi ini kita harus menjaga badan dengan menjaga pola makan, asupan makanan dan tidur yang cukup. Hal-hal tersebut juga bisa berpengaruh ke kecepatan pemulihan badan jika mengalami sakit. 

Baca juga: 


Manfaatkan website/ aplikasi berobat online 

Kalau tidak darurat, coba lakukan konsultasi berobat online untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit. Seperti ceritaku kalau aku tidak bisa berobat karena PSSBB, website/ aplikasi berobat online sangat membantu. Kita bisa berkonsultasi, mendapatkan penanganan dan resep obat dari dokter tanpa harus mengunjungi klinik/ rumah sakit. 


Jika darurat, pergilah ke rumah sakit

Kalau keluhanmu sudah tidak bisa ditahan lagi atau butuh penanganan serius, pergilah ke rumah sakit. Dalam masa pandemi ini pasti regulasi berobat di rumah sakit menjadi lebih ketat. Bersabar dan coba ikuti petunjuk cara berobat dari petugas rumah sakit terkait. 



Ngomong-ngomong soal website/ aplikasi berobat online, aku suka membaca info kesehatan di Halodoc. Disana kita bisa membaca artikel kesehatan yang akurat dan konsultasi secara online dengan dokter-dokter pilihan tersertifikasi yang tergabung di website tersebut. Fitur yang ada cukup lengkap. Konsultasi online bisa dilakukan lewat fitur voice, video call maupun chat personal dengan dokter umum atau dokter spesialis yang kita inginkan. Poin plus dari Halodoc, data list dokter, lokasi praktek rumah sakit dan pengalaman bekerjanya diperlihatkan di website supaya lebih transparan ke pasien. Selain itu, kita bisa membeli obat, membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit dan bisa meminta layanan pemeriksaan lab ke rumah yang bekerja sama dengan Laboratorium Prodia. Semua layanan kesehatan dicakup oleh Halodoc tanpa harus keluar rumah. Saat ini Halodoc bisa diakses melalui website dan aplikasi smartphone. 

Saat ini kita dilanda kepanikan gara-gara virus Corona karena kita benar-benar buta tentang virus ini, apalagi virus Corona merupakan virus baru dan masih belum ditemukan obatnya. Banyak pertanyaan yang timbul di benak tentang ciri-ciri virus Corona, penyebabnya, bagaimana penanganannya dan masih banyak lagi. Saat ini Halodoc menyediakan layanan rapid test COVID-19 atau Corona. Jika kamu ingin cek rapid test COVID-19 atau membutuhkan penanganan lain mengenai virus Corona, kamu bisa cek di website/ aplikasi Halodoc untuk info lebih lanjut. 


Dengan memanfaatkan website/ aplikasi berobat online, kita bisa terhindar dari resiko penyebaran virus Corona dan penyakit lain serta bisa mematuhi aturan pemerintah dengan baik. Tidak terbatas dalam masa pandemi ini saja. Jika situasi sudah kembali pulih, kita juga bisa memanfaatkan website/ aplikasi berobat online sehingga lebih praktis. Untuk kalian yang tidak bisa berobat di tengah pandemi Corona, tetap sabar dan jangan panik. Semoga tips dari aku membantu ya. Semoga pandemi Corona ini cepat berakhir dan situasi kembali normal. Stay safe, kawan. 


Saturday, April 25, 2020

Blog 101 - Apa Yang Brand Harapkan Saat Mengajak Blogger Bekerja Sama? (Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD)

Cara blogger bisa diajak kerja sama Brand
Hai hai~~ Biasanya aku buat review, kali ini aku mau membahas tentang topik yang sering banget di-kepo-in para blogger terutama beauty blogger. Kalau kamu juga berprofesi sebagai beauty blogger terutama yang sudah pernah mendapat project review dari brand, pernah nggak sih bertanya-tanya “kok dia dapet paid review? Kok aku enggak?” atau waktu ditanya temen “loh kamu kok dapet paid projectnya brand A? kok bisa?”. Pertanyaan ini juga udah lama ada di otakku. Pertanyaanku terjawab setelah aku join Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD “What Does Beauty Brand Expect When Hiring A Blogger” dengan Erny Kurnia. Erny ini blogger dari blog Erny's Journal yang niche-nya lifestyle dan beauty. Dia juga teman beauty blogger-ku yang sudah lama kukenal. Sekarang Erny bekerja sebagai manager dari sebuah beauty brand di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya meng-handle brand beauty, di kesempatan Ngopi Cantik Beautiesquad Erny berbagi informasi tentang apa yang sebenarnya brand harapkan dari mengajak blogger bekerja sama. Karena topiknya sangat penting untuk blogger terutama beauty blogger supaya tahu bagaimana bekerja sama dengan brand kedepannya, di artikel ini aku akan share poin-poin yang di-share Erny di Ngopi Cantik Beautiesquad kemarin. Blog post ini bakal panjang banget, please enjoy yah!

Cara blogger bisa diajak kerja sama Brand

Dari Ngopi Cantik Beautiesquad, Erny menyampaikan beberapa poin yang aku rangkum sebagai berikut: 



"Apa tujuan brand mengajak kerja sama Blogger?"

1. Meningkatkan backlink ke official website brand. 
Kalau produk suatu brand direview oleh blogger, biasanya orang jadi penasaran dan yang perlu dikunjungi adalah website brand karena deskripsi produk, warna, dan harga produk bisa dilihat disana. Ini bisa meningkatkan brand value dalam jangka panjang karena pengaruhnya ke ke DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) website brand. 

2. Meningkatkan SEO brand di mesin pencari Google. 
Selain backlink, DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) juga berkaitan dengan SEO. DA dan PA ini merupakan penanda seberapa berkualitas website atau blog. Semakin bagus SEO-nya, semakin bagus juga kemampuan website terindeks oleh Google. 

3. Meningkatkan awareness tentang brand dan produk yang sedang dipromosikan.
Ketika produk suatu brand yang direview, secara otomatis calon konsumen yang membaca review produk tersebut akan mengenal brand dan tertarik untuk melihat-lihat koleksi produk lainnya. 

4. Memberikan banyak opsi review ke calon customer. 
Ketika review dibuat oleh banyak blogger, hasil review yang didapatkan pembaca bisa beragam. Karena jenis kulit dan orang berbeda, performa produk juga bisa berbeda. Contohnya kayak jenis kulitku yang kombinasi sensitif belum tentu hasilnya sama dengan review blogger lain yang kulitnya oily ataupun dry. Semakin banyak opsi review, pembaca jadi bisa mengira-ngira produk itu akan cocok di kulitnya atau nggak. 



"Sekarang kan tren-nya Instagram dan Youtube, apa masih ada kemungkinan brand mengajak blogger bekerja sama?" 

Ngaku deh, kalau kamu seorang blogger pasti terpikir dengan hal ini kan? Erny sebagai orang yang bekerja di brand berkomentar kalau blogger tetap dibutuhkan. Beda platform tujuan dan potensial customernya juga beda. Kembali lagi ke brand tersebut menginginkan target marketing seperti apa. Kalau buat aku pribadi, blog punya poin plus sendiri karena kita bisa membaca review lebih detail dan nggak memakan kuota sebanyak buka Instagram atau Youtube. 



"Apa saja kriteria blogger yang akan dipilih untuk bekerja sama oleh brand?"

1. Blogger harus punya platform TLD (Top Level Domain) dengan DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) yang baik.
Blog ber-platform TLD adalah blog yang linknya berakhiran .com , .co.id , .net , .org dan dll. Sedangkan blog non-TLD adalah blog yang linknya punya embel-embel seperti blogspot.com , wordpress.com , dll. Kenapa sih blog TLD penting banget buat brand? Tujuan utama brand adalah meningkatkan SEO website brand kan. Kalau blognya non-TLD dan DA/PA-nya rendah, kemampuan terindeks Google nggak bisa sebagus blog yang sudah TLD dan DA/PA tinggi. Blog sengan standar DA/PA minimal 12/20 yang biasanya dicari. Maka dari itu, kalau kamu pengen membuat blogmu lebih profesional di mata pembaca dan brand, ada baiknya beli domain TLD. Tempat untuk membeli domain yang murah sudah banyak. Biaya pendaftaran dan maintainnya juga relatif terjangkau. Kamu bisa search. Aku yakin kamu banyak menemukan artikel tentang ini dimana tempat membeli domain yang oke di Google. 

2. Blogger mempunyai personal branding yang kuat.
Pembaca biasanya akan lebih sering mengunjungi blog yang punya personal branding. Jadi personal branding itu apa sih? Personal branding adalah kualitas yang ditunjukkan. Menurutku ini pemahamannya luas banget. Bisa jadi ciri khas, gaya penulisan, pokoknya apa yang membuat kamu menonjol sebagai blogger. Ada baiknya personal branding antara blog dan sosial media selaras karena 2 media ini saling mendukung satu sama lain. Nah berdasarkan pengalaman Erny meng-handle brand beauty, brand selalu mengutamakan keamanan produk dan ingin mengedukasi calon customer. Maka dari itu, blogger yang diajak kerja sama adalah yang HARUS nggak pernah mereview produk abal-abal/ KW. Nggak terbatas di produk beauty aja, tapi juga apapun yang ditampilkan di blog atau sosial medianya seperti produk fashion, sepatu, dll. Menurutku poin ini penting banget untuk blogger karena citra blog/ sosial media yang mereview barang KW bisa dibilang sudah nggak kredibel lagi. 

3. Blogger yang dipilih harus cantik dan putih, ya nggak dong!
Kulit orang Indonesia warnanya beragam kan ya. Warna kulit nggak bisa dijadikan patokan. Menurut Erny, tiap brand punya spesifikasi sendiri. Namun biasanya kriteria utamanya adalah blogger harus bisa sharing knowledge dengan jelas ke pembaca tentang produk yang dipromosikan, apapun warna kulitnya. 

4. Blogger harus menyertakan visual yang representatif dan berkualitas baik sebagai pendukung tulisan.
Selain foto, tema blog sangat diperhatikan oleh brand. Kalau aku pribadi sebagai pembaca, aku suka mengunjungi blog yang fotonya jelas, tema blognya simpel, clear, nggak banyak embel-embel dan tulisannya nyaman dibaca. Tema blog juga bisa mencerminkan karakter pemilik blog. Bisa berpengaruh ke personal branding juga. 

5. Blogger yang diajak kerja sama harus kuat di sosial media dan punya follower besar, belum tentu!
Menurut Erny, sosial media milik blogger harus kuat secara branding namun nggak harus selebgram. Ini tergantung goals dari brand-nya. Kalau brand spesifikasinya pengen level makro mungkin selebgram dengan follower tinggi dibutuhkan. Tapi nggak semua brand memilih yang followernya banyak untuk diajak kerja sama. Blogger dengan follower sedikit pun berpeluang diajak kerja sama asal punya personal branding dan kontennya baik. Keaktifan di sosial media juga bisa membuat brand memperhatikan kamu dan berpeluang buat dilirik. Jadi nggak usah sampai dibelain beli likes atau follower ya. Useless. Brand lebih fokus ke hasil konten. Erny juga menambahkan kalau POD itu ternyata nggak bagus untuk performa sosial media loh. Brand lebih suka dengan engagement yang natural dan real. 



"Sebenarnya apa yang brand harapkan dari blogger yang diajak bekerja sama sehingga terbuka kemungkinan bekerja sama kembali?"

Blogger bisa menyampaikan informasi terkait produk yang direview dengan penulisan yang jelas.
Review harus ditulis dengan cara penulisan yang jelas mulai dari deskripsi produk, ingredients, feel saat digunakan, hingga kelebihan dan kekurangannya. Jangan berbelit-belit padahal intinya 1 kalimat dipanjangin jadi 1 paragraf akhirnya membuat pembaca bingung. Penggunaan tanda baca juga penting. Biasanya brand akan membantu blogger dalam tata cara penulisan review dengan memberikan brief/ guideline. Meskipun ada brief, usahakan selalu membuat honest review. Terkadang ada brand yang nggak mau disebutkan kekurangan produknya, namun ada juga yang membebaskan blogger berpendapat seperti apa. Walaupun nggak semua brand ingin produknya yang direview dibahas kekurangannya secara gamblang, seenggaknya kasih penjelasan kenapa kamu kurang puas dengan produk tersebut. Nah ini sering jadi perhatianku sebagai penulis dan pembaca. Sering banget aku menemukan review dengan tulisan “aku nggak suka produknya” atau “teksturnya jelek” tiba-tiba the end. Singkat, padat, tapi nggak jelas. Menurutku ini nggak informatif. Minimal kasih informasi apa yang membuat produk tersebut kurang puas bagi kamu. Ada baiknya pemilihan kata-katanya juga nggak kasar, misalnya “Menurut aku produk ini kurang sesuai buat aku karena A, B, C”. Pakai bahasa yang sopan, nggak men-judge dan netral akan lebih dihargai pembaca dan brand. Toh pengalaman yang kamu dapat dengan produk itu belum tentu sama di orang lain. Personal branding-mu juga nggak akan jatuh karena sepotong kalimat. 

Blogger memberikan kualitas foto yang baik.
Foto bisa diambil dari kamera atau handphone asal dengan kualitas yang baik, representatif, dan nggak buram, terutama untuk review berbayar. Misalnya mereview lipstick lebih baik disertai foto swatch di bibir karena tujuan lipstick dibuat kan untuk bibir bukan untuk tangan. Kalau kamu beli lipstick karena tertarik sama warna swatch tangan ternyata di bibir warnanya nggak sesuai ekspektasi, terus kamu nggak puas gitu gimana rasanya? Aku pernah kesel gara-gara salah beli shade lipstick karena berpatok ke review lipstick yang cuma swatch di tangan. Ini juga merupakan tanggung jawab blogger untuk memberikan informasi tentang produk sejelas mungkin ke pembaca baik berupa tulisan maupun visual. 

Terjalin simbiosis mutualisme antara brand dan blogger
Brand butuh direview produknya dan blogger butuh konten untuk dipublish. Karena sama-sama punya kepentingan, diharapkan brand dan blogger bisa bekerja secara profesional. Ikuti brief yang diberikan brand dengan baik. Kalau brand puas dengan review kita, siapa tahu brand akan mengajak bekerja sama lagi kedepannya, ya nggak? 

Bisa menjalin hubungan profesional antara brand dan blogger.
Bersikap profesional penting banget karena menyangkut image blogger di mata brand. Jangan sampai ada salah paham. Jika mengalami suatu hal yang berpotensi membuat kamu atau brand nggak senang misalnya produknya menimbulkan masalah di kulit kamu atau fee-nya nggak sesuai bisa dikomunikasikan baik-baik lewat e-mail atau chat pribadi. Aku pernah menemukan kasus blogger/ influencer yang dengan sengaja menulis hate speech tentang brand di sosial media atau dengan sengaja memprovokasi brand di grup project yang berisi banyak blogger/ influencer lain. Ini sangat nggak etis di mata brand. Selain dianggap nggak profesional, ini bisa berimbas ke pencemaran nama baik atau kamu bisa dijadikan black list brand. Kalau sudah jadi black list efeknya nggak main-main. Brand pasti punya channel yang luas ke brand-brand lain begitupun blogger. Blogger di Indonesia kebanyakan saling mengenal walaupun beda daerah. Salah-salah bisa berimbas nama baik kamu tercoreng dan susah dapat project. Ini berlaku juga untuk mem-preloved PR gift. Memang itu hak blogger sih kalau mau preloved, kecuali brand-nya yang nggak memperbolehkan PR guft-nya di-preloved atau giveaway. Tapi nggak etis juga kan kalau setelah selesai direview langsung di-preloved. Reviewnya bilang cocok masa langsung dijual? Minim tunggu 3 bulan supaya pembaca nggak rancu dengan review produk yang kamu buat. Kecuali kamu punya produk double sih sah-sah aja mau dijual hehe. 

Membantu brand meningkatkan brand value dan branding position.
Branding position ini berkaitan erat dengan personal branding blogger. Kalau kita selalu mereview produk yang aman, original dan membuat review yang baik, citra brand yang bekerja sama dengan kita juga ikut baik. Kalau brand mengajak blogger yang suka mereview produk KW atau asal-asalan, secara tidak langsung brand tersebut citranya juga akan tercoreng. 



"Lalu, bagaimana brand menilai rate card blogger?"

Menurut Erny, rate card ini sendiri nggak ada standarnya. Rate card blogger nggak bisa dibilang kemahalan atau kemurahan karena brand punya standar masing-masing. Rate card yang ideal dengan standar brand lah yang diajak kerja sama. Biasanya hal yang dinilai brand terhadap rate card adalah dari personal branding, performa blog/ channelnya, kualitas konten (meliputi cara penulisan dan visual), dan seberapa banyak detail brief yang dibuat brand. Brand mengharapkan hasil review blogger sesuai dengan fee yang dibayarkan. Kalau ada paid review dengan brief rumit, blogger yang dibayar harus bisa memenuhi. Dan kalau brand nggak mau bayar alias cuma kasih produk ya logikanya brand nggak bisa banyak mau juga. 





Itu dia hasil rangkuman Ngopi Cantik Beautiesquad with Erny. Menurut kamu gimana penjelasannya? Sudah menjawab pertanyaan kamu belum? Dari informasi yang Erny kasih sebagai orang yang bekerja di brand beauty, kita jadi tahu apa sebenarnya yang diharapkan brand saat mengajak blogger untuk bekerja sama. Kalau seperti ini, blogger bisa dianggap profesi karena melibatkan sikap profesional di dalamnya. Tanggung jawab ke brand dan pembaca juga besar. Setelah membaca Blog 101 “What Does Beauty Brand Expect When Hiring A Blogger” Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD with Erny Kurnia, aku harap kamu yang membacanya bisa menemukan titik terang dan mendapat petunjuk bagaimana cara blogger bisa diajak bekerja sama oleh brand sekaligus meningkatkan performa blog kamu. Semoga artikelnya bermanfaat ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. ^^


Use code GADZOTICA10 to get 10% OFF

© Copyrighted and Designed by . All rights reserved.